Lengkapi Isian!

Hide Lengkapi Isian!

Lupa password?

Lengkapi Isian!

Lengkapi Isian!

Lengkapi Isian!

Hide Lengkapi Isian!

Hide Lengkapi Isian!

Lupa Password? Silahkan masukkan alamat email Anda. Anda akan menerima email yang berisi password baru Anda.

Lengkapi isian!

Kembali ke log-in

Close

Workshop: “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia”

Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) sebagai PUI Kebijakan Perubahan Iklim dan  sebagai representasi Badan Litbang dan Inovasi (BLI) memfasilitasi Review and Directions Workshop ACIAR Project FST/2016/144: “Improving Community Fire Management and Peatland Restoration in Indonesia”. Acara yang digelar di Hotel Novotel, Banjarbaru, berlangsung selama tiga hari, tanggal 13-15 November 2018. Pertemuan semacam ini merupakan agenda tahunan dengan tujuan me-review kegiatan, memberikan arahan dan rekomendasi untuk kegiatan ke depan.

Dr. Daniel Mendham, Project Leader ACIAR, mengungkapkan bahwa proyek ini memiliki potensi besar bagi keberhasilan upaya restorasi lahan gambut di Indonesia. Untuk mewujudkannya, diperlukan pengetahuan baru sebagai pendukungnya, kata Daniel saat menyampaikan project overview. Menurutnya, mata pencaharian dan industri dapat dipertahankan di lahan gambut yang dipulihkan melalui analisis dan perbaikan kebijakan serta peningkatan manajemen pengetahuan.

Hari pertama diisi oleh paparan dan diskusi mengenai kemajuan dan tantangan dari masing-masing objektif kegiatan, yakni aspek fires (kebakaran), livelihoods (mata pencaharian), soils (tanah), policy (kebijakan), dan knowledge system (sistem pengetahuan). Acara kemudian dilanjutkan dengan update kegiatan Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Universitas Palangkaraya, Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Kalimantan Tengah (Kalteng), Dinas Kehutanan Kalteng, Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau-Kalteng, Taman Nasional (TN) Sebangau, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Produksi Kahayan Hilir, dan KPH Lindung Kapuas Kahayan, selaku mitra proyek dan pemangku kepentingan (key stakeholder) di Indonesia. 

Di hari kedua, antusias peserta tidak surut. Diskusi dilakukan lebih interaktif dengan membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Prof. Lorrae Van Kerkhoff dan Dr. Lissa Robbin mengisi acara dengan sangat menarik. Paparan tentang pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) yang sudah dilakukan di dua lokasi, yaitu Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan menyita perhatian peserta. Peserta diminta untuk memberikan masukan terhadap hasil pemetaan tersebut. Selingan paparan pengalaman tim peneliti ketika melakukan studi di lapangan serta launching website ACIAR FST/2016/144, berhasil meredam rasa lelah. Hari kedua diakhiri dengan diskusi kelompok per objektif tentang rencana kerja dan bagaimana mengatasi kendala yang mungkin dihadapi.

Rangkaian kegiatan workshop diakhiri dengan field trip pada hari ketiga ke Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) Kalimantan Selatan, Hutan Kemasyarakatan (HKm) Liang Anggang, dan Desa Purun. Melalui field trip, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga melihat langsung kondisi dan permasalahan di lapangan.

“Saya sangat terkesan dan tertarik melihat bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan tanaman purun yang tumbuh liar di lahan gambut, menjadi komoditas yang dapat dijual-belikan. Walaupun masih dijual secara lokal namun ini bisa menjadi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat”, kata Kushartati Budiningsih, salah seorang peserta.

“Begitu banyak institusi yang terlibat dalam proyek ini, saya harap ke depan proyek dengan berbagai objektif yang ada di dalamnya mampu berjalan secara konvergen dan menghasilkan model restorasi ekosistem yang bisa diimplementasikan untuk merestorasi lahan gambut di Indonesia yang sebagian besar sudah mengalami kerusakan”, pungkasnya di sela-sela mengikuti field trip.

Rangkaian kegiatan workshop dan field trip memberikan harapan dan optimisme ke depan. Dengan melibatkan kerjasama stakeholder, baik di Australia maupun Indonesia, ACIAR Project FST/2016/144 diharapkan mampu menghasilkan sebuah ide dan capaian yang bermanfaat bagi terlaksananya pengelolaan gambut secara lestari di Indonesia.